Gadis Hujan dan Lelaki yang Merutuki Sunyi dalam Diri


 

Langit senja yang lindap mulai menjatuhkan hujan di sepanjang setapak lengang berpagar belukar itu. Orang-orang telah meninggalkan ladang dalam keheningan hutan. Hujan menyingkap daun pintu. Halaman kosong. Tak ada sesiapa yang pulang. Mungkin di rimba hujan turun deras, pikirnya. Ia turuni anak jenjang. Ia tadahkan tangan ke langit untuk merasakan bulir yang rintik. Tiba-tiba gadis itu teringat hujan masa kecil. Sekali saja ia ingin kembali mengakrabi bulir-bulirnya. Ia tergoda hujan. Perlahan, deraian itu jelma jemari-jemari air yang menariknya untuk terus berjalan. Mengikuti setapak panjang yang mengarah ke hutan. Terus menuruni lembah. Daun-daun basah menggelepar ditampar angin. Daun-daun tua berlepasan dari tangkai. Berayun dalam sansai. Lalu badai dengan acuh menghanyutkannya ke sungai itu.

Hujan menatap sungai yang membelah lembah dalam keheningan. Derunya serupa gejolak dalam urat-urat darah. Gejolak keinginan yang tak hendak redam. Keinginan Hujan menjelma sepenuhnya hujan yang mengalir ke laut. Memuai ke arah matahari. Menjelma awan. Bertualang dalam angin. Kemudian terlerai jadi percik embun. Lagi, turun sebagai hujan. Hujan yang menghapus warna buram di kaca jendela. Jendela tempat ia merutuki  musim yang membiarkan sekam memendam bara api sepanjang tahun. Tahun-tahun yang dikurung kabut. Kabut yang menyesakkan jantung. Oih! Atau barangkali, ia hanya ingin menjadi hujan yang memadamkan gelegak bara? Atau, hujan yang riuhnya mampu meredam lagu sunyi seorang lelaki?

Baca selanjutnya…

Iklan

Lelaki yang Datang dari Masa Lalu

Cerpen di Koran Singgalang Minggu (18/6/2017)

Puan terbangun tengah malam dengan suasana hati yang buruk. Ia mengucap beberapa kali. Ia rasakan degup jantungnya tak karuan, serupa pintu yang digedor dari dalam. Hawa panas menguar dari tubuhnya. Melawan angin dingin yang menyusup dari ventilasi kamarnya. Samar-samar bayang dedaunan melambai di kaca jendela, ditimpa cahaya purnama.

Puan tak bisa terus berbaring. Pelan-pelan ia bangkit dari dipan, lalu berjalan ke arah jendela. Disingkapnya tirai jendela itu, dilepaskannya pandang ke halaman. Ia melihat kekosongan. Perlahan, pandangannya mendaki ke langit. Dilihatnya purnama tengah menyala di puncak bukit. Ada perasaan sunyi yang menjalari hati. Ia menatap lebih jauh lagi ke langit tinggi. Entah melihat apa. Tatapan yang hampa. Baca selanjutnya…

Kategori:Cerpen, Sastra Budaya

Senja Jelang Kudapati Dirimu dalam Diriku

Ini senja aku hanya ingin membuat lagu
Menerjemahkan nadanada
senantiasa bersenandung dalam jiwa ini
Iramanya akan membuatmu merasakan kehadiran sesuatu yang lain di sini
Di dalam diri ini Baca selanjutnya…

Jadilah Mujahid, Anakku!

Mujahidku

Jpeg

Nak, kelak engkau dewasa nanti, jadilah mujahid. Jadilah seorang pejuang, Anakku!
Ingatlah ini, berjihad tak selalu berarti perang dengan pedang terhunus di tangan. Saat engkau melakukan kebaikan dengan sungguh-sungguh dan hanya karena Allah, sesungguhnya itu adalah jihad. Baca selanjutnya…

Riwayat Ladang Nantan

I

Ada simfoni terus berdenging di telingaku
Seperti nyanyi hutan masa lalu
Rimba Sungai Ampuh
Ladang-ladang kopi itu
Harum batang kulit manis
Memanggil-manggil diriku
Deru angin parau
Tebing-tebing tempat hilalang mencuat
Seperti wajah teduh nantan dengan jambang runcing lebat Baca selanjutnya…

Setelah Jadi Ibu Aku Jelma Kekanak

Saat menjadi ibu
Aku teringat Amak
Setelah memiliki anak
Terkenang aku masa kekanak
Kepalkepal nasi itu
Kau suapi aku dengan peluh jemarimu
Aku senang makan sambil bermain berlarian
Sepanjang setapak selapang halaman Baca selanjutnya…

Kategori:Puisi, Sastra Budaya

Bertualanglah seperti Angin!

Bertualanglah seperti angin, lelaki!
Melesatlah ke segala penjuru
Belenggu macam apa dapat menahan kepak sayapmu?
Hamburkan debu di puncak gunung tertinggi
Araklah gelombang di laut terdalam
Singkaplah rahasia lembahlembah paling sunyi, paling sembunyi Baca selanjutnya…

Kategori:Puisi, Sastra Budaya