Lelaki yang Datang dari Masa Lalu

Cerpen di Koran Singgalang Minggu (18/6/2017)

Puan terbangun tengah malam dengan suasana hati yang buruk. Ia mengucap beberapa kali. Ia rasakan degup jantungnya tak karuan, serupa pintu yang digedor dari dalam. Hawa panas menguar dari tubuhnya. Melawan angin dingin yang menyusup dari ventilasi kamarnya. Samar-samar bayang dedaunan melambai di kaca jendela, ditimpa cahaya purnama.

Puan tak bisa terus berbaring. Pelan-pelan ia bangkit dari dipan, lalu berjalan ke arah jendela. Disingkapnya tirai jendela itu, dilepaskannya pandang ke halaman. Ia melihat kekosongan. Perlahan, pandangannya mendaki ke langit. Dilihatnya purnama tengah menyala di puncak bukit. Ada perasaan sunyi yang menjalari hati. Ia menatap lebih jauh lagi ke langit tinggi. Entah melihat apa. Tatapan yang hampa. Baca selanjutnya…

Kategori:Cerpen, Sastra Budaya

Senja Jelang Kudapati Dirimu dalam Diriku

Ini senja aku hanya ingin membuat lagu
Menerjemahkan nadanada
senantiasa bersenandung dalam jiwa ini
Iramanya akan membuatmu merasakan kehadiran sesuatu yang lain di sini
Di dalam diri ini Baca selanjutnya…

Jadilah Mujahid, Anakku!

Mujahidku

Jpeg

Nak, kelak engkau dewasa nanti, jadilah mujahid. Jadilah seorang pejuang, Anakku!
Ingatlah ini, berjihad tak selalu berarti perang dengan pedang terhunus di tangan. Saat engkau melakukan kebaikan dengan sungguh-sungguh dan hanya karena Allah, sesungguhnya itu adalah jihad. Baca selanjutnya…

Riwayat Ladang Nantan

I

Ada simfoni terus berdenging di telingaku
Seperti nyanyi hutan masa lalu
Rimba Sungai Ampuh
Ladang-ladang kopi itu
Harum batang kulit manis
Memanggil-manggil diriku
Deru angin parau
Tebing-tebing tempat hilalang mencuat
Seperti wajah teduh nantan dengan jambang runcing lebat Baca selanjutnya…

Setelah Jadi Ibu Aku Jelma Kekanak

Saat menjadi ibu
Aku teringat Amak
Setelah memiliki anak
Terkenang aku masa kekanak
Kepalkepal nasi itu
Kau suapi aku dengan peluh jemarimu
Aku senang makan sambil bermain berlarian
Sepanjang setapak selapang halaman Baca selanjutnya…

Kategori:Puisi, Sastra Budaya

Bertualanglah seperti Angin!

Bertualanglah seperti angin, lelaki!
Melesatlah ke segala penjuru
Belenggu macam apa dapat menahan kepak sayapmu?
Hamburkan debu di puncak gunung tertinggi
Araklah gelombang di laut terdalam
Singkaplah rahasia lembahlembah paling sunyi, paling sembunyi Baca selanjutnya…

Kategori:Puisi, Sastra Budaya

Wasiat Kepulanganku di Hari Kelahiranmu

: AW

Jpeg

Gerangan apakah yang mesti kita kenang dari hari kelahiran?
Duhai… tiap kali hari di mana tapak pertama kali menjejak di pangkal setapak panjang ini menjelma perulangan, aku selalu teringat tentang kepulangan.
“Sungguh, perjalanan ini kian mendebarkan, Sayang!” Baca selanjutnya…