Beranda > Cerpen, Sastra Budaya > Lelaki yang Datang dari Masa Lalu

Lelaki yang Datang dari Masa Lalu

Cerpen di Koran Singgalang Minggu (18/6/2017)

Puan terbangun tengah malam dengan suasana hati yang buruk. Ia mengucap beberapa kali. Ia rasakan degup jantungnya tak karuan, serupa pintu yang digedor dari dalam. Hawa panas menguar dari tubuhnya. Melawan angin dingin yang menyusup dari ventilasi kamarnya. Samar-samar bayang dedaunan melambai di kaca jendela, ditimpa cahaya purnama.

Puan tak bisa terus berbaring. Pelan-pelan ia bangkit dari dipan, lalu berjalan ke arah jendela. Disingkapnya tirai jendela itu, dilepaskannya pandang ke halaman. Ia melihat kekosongan. Perlahan, pandangannya mendaki ke langit. Dilihatnya purnama tengah menyala di puncak bukit. Ada perasaan sunyi yang menjalari hati. Ia menatap lebih jauh lagi ke langit tinggi. Entah melihat apa. Tatapan yang hampa.

Perasaan aneh kembali meliputi jiwanya. Suasana asing yang terbangun dari mimpi. Mimpi yang baru saja menghinggapi tidurnya. Ia bermimpi aneh. Serasa waktu kembali ke masa lalu dan ia merasakannya seperti nyata. Dalam mimpi itu, seseorang yang sepertinya sangat ia kenal, datang kepadanya. Merangkulnya, sembari membisikkan sajak cinta.

Serta-merta ingatannya dihela ke silam. Di kepalanya membayang sesosok lelaki. Lelaki itu, yang pernah mengucapkan sebuah kalimat padanya. Kalimat yang membuat ia menyesal pernah mendengarnya. Yang semestinya tak pernah diucapkan, baik di awal maupun di akhir pertemuan mereka. Kalimat yang semakin gigih hendak dihapuskannya dari ingatan, namun justru jadi semakin kuat mencengkeram bagian belakang lorong kepalanya. Aneh memang, sesuatu yang semakin keras ingin dilupakan, justru selalu membayang sepanjang ingatan. Bahkan di saat engkau tidak memikirkannya, hal itu telah menghuni alam bawah sadar dan sewaktu-waktu bangkit dalam mimpi sebagai hantu masa lalu. Begitulah yang dirasakan Puan, saat ia melihat lelaki dari masa lalu menghampirinya dalam mimpi. Mimpi yang membuatnya kembali teringat pada kalimat yang pernah diucapkan lelaki itu kepadanya.

Aku cinta kau, Puan! Begitulah kalimat terakhir yang pernah diucapkan lelaki itu, melalui pesan yang dikirim lewat udara, pada suatu senja beberapa tahun lalu. Kalimat itu ditujukan padanya, sebelum lelaki itu menikahi perempuan lain. Ia tiba-tiba merasa ingin marah. Tapi kepada siapa? Bukan salah lelaki itu pula bila ia mendapat mimpi seperti itu.

“Ah, setan mungkin tengah menggodaku! Mimpi itu hanya siasat untuk sebuah rencana jahat,” bisik Puan kepada dirinya sendiri. Semacam sugesti untuk meredakan kegelisahan yang kini berkelindan di hati.

Namun, tetap saja ia rasakan sensasi sakit hati persis serupa yang pernah ia rasakan dulu. Kini, kembali Ia menyesali pernah menerima pesan singkat itu. Meski tanpa suara, mestinya kata-kata itu tidak pernah diucapkan. Apa gunanya? Sekadar kata-kata. Bahkan tak berarti sama sekali bagi dirinya. Itu hanya sebuah pernyataan. Sedangkan yang ia butuhkan saat itu adalah kepastian. Sebuah ikatan yang sah secara hukum dan agama.

Lalu apa gunanya engkau mencintai orang lain yang tidak akan kaunikahi? Begitu pernah ingin ia sanggah ucapan lelaki itu. Tapi tak pernah ia ucapkan. Tak pernah ia balas pesan singkat itu. Perempuan itu lebih memilih tak berujar apa-apa. Yang ia tahu, lelaki itu tidak cukup teguh untuk mempertahankan sesuatu. Bahkan ia seorang peragu, yang akhirnya memilih menikahi sepupunya itu karena hampir gila ditinggal calon suami yang tiba-tiba menghilang di hari di mana ninik-mamak dan keluarga si perempuan telah tiba di halaman rumah si calon suami untuk berunding.

Lelaki itu meninggalkan Puan, dan memilih menikahi perempuan yang hampir gila. Ia harus menikahi perempuan itu untuk menyelamatkannya. Untuk menyelamatkan kehormatan keluarga dan ninik-mamaknya agar tak perlu malu karena memiliki kemenakan yang gila karena gagal menikah? Kalau begitu, lelaki itu pasti sudah dianggap pahlawan bagi keluarga besarnya.

Kepala puan kini terasa berat. Bahkan dulu ia tak keberatan melepas lelaki itu untuk hidup dengan orang lain. Perempuan pilihan keluarganya. Lalu bagaimana dengan hatinya? Tak masalah. Ia bisa menatanya setelah ini. Bukankah selama ini Puan bisa tetap hidup? Bahkan beberapa kali ia pernah tersua dengan lelaki itu saat masih sibuk hilir-mudik di kampus untuk menyelesaikan skripsinya. Ia tak gugup. Padahal beberapa waktu sebelumnya, melalui pesan singkat di ponsel, lelaki itu telah menceritakan semuanya, perihal pernikahannya dengan sepupunya itu.

[Menurutmu, apa yang harus aku lakukan, Puan? Aku senang dan bahagia denganmu. Sejujurnya, engkaulah perempuan yang aku pilih. Tapi, aku juga harus merawat seseorang. Dia pernah gagal menikah. Aku harus menyelamatkannya. Apa pendapatmu, harus bagaimana aku?]

[Engkau lelaki! Mestinya bisa mengambil keputusan paling bijak]

[Baiklah, aku akan menikahinya. Tapi, aku cinta kau, Puan!]

Puan tidak membalas pesan itu. Pesan yang menjadi kalimat terakhir lelaki itu. Pada kalimat itu, ia tidak menemukan makna apa-apa. Kecuali… kecuali sebuah kalimat yang akan mengikatnya ke masa lalu, dan kini menjelma ancaman bagi kebahagiaan masa depan. Ancaman? Mungkin tidak semenakutkan itu. Lebih tepatnya semacam gangguan yang dapat menodai kebahagiaannya bersama seseorang yang akan menjadi bagian hidupnya kelak. Dan kini, hal yang ia khawatirkan itu terjadi. Ia terbangun tengah malam, dengan suasana hati yang buruk. Teringat masa lalu. Kenangan bersama lelaki itu melonjak-lonjak liar di rongga kepalanya. Membuatnya terasa sakit. Seolah ada bongkahan batu yang bergulir-gulir di dalamnya.

Puan terdiam. Ia kembali memandangi halaman dari balik kaca jendela. Di luar tampak masih gelap. Hening. Hanya kalimat di kepalanya saja yang terdengar riuh. Kalimat yang datang dari mimpi. Mimpi yang bangkit dari liang kenangan. Ada sesuatu yang halus dan bergetar merasuki dadanya. Betapa waktu telah mengubah segalanya. Sesuatu yang dulunya tak bermakna, kini tiba-tiba saja memiliki arti. Kenangan yang dulunya terasa manis, kini bagai duri yang harus disingkirkan dari ingatan. Segalanya berubah seiring waktu. Waktu bagaikan arus sungai yang mengalir deras. Tanpa dapat dibendung. Tepian yang dilaluinya akan selalu berubah.

Ya, segalanya memang telah berubah. Bukankah sudah tidak ada lagi ruang di hati Puan untuk lelaki itu? Bukankah sekarang di sampingnya, suaminya sedang terlelap? Begitu juga lelaki itu, tentu sekarang ia tengah terlelap di sisi istrinya. Memeluk istrinya dengan kehangatan cinta. Dan mungkin saja sudah tak ingat lagi bahwa dulu ia pernah mencintai orang lain sebelum menikahi perempuan yang kini pulas di lingkar lengannya itu. Perempuan yang membuat Puan memilih berlapang dada dan merelakan lelaki itu pergi. Yang bagi dirinya, keputusan untuk melepaskan itu tidak hanya ia lakukan untuk perempuan yang hampir gila itu. Akan tetapi juga untuk menyelamatkan kehormatan keluarga besar, para ninik-mamak yang pemuka adat itu. Kecuali untuk kalimat ‘aku cinta kau, Puan!’ ia telah terlepas dari perasaan apapun yang mengikatnya dengan lelaki itu. Ya, kecuali untuk kalimat itu yang kini menjelma bagai tali yang mengikat dan menyeretnya pada ingatan masa lalu.

Dulu, saat pertama kali jatuh cinta pada Puan, lelaki itu bahkan yakin ingin mempertemukan Puan dengan keluarganya. Pada sebuah kesempatan, Puan membiarkan lelaki itu bercakap-cakap dengan ibunya lewat ponsel. Anggap saja ini langkah pertama pendekatan keluarga, begitu ujar lelaki itu. Namun, kebersamaan mereka ternyata tak lebih dari satu purnama. Tragedi menimpa sepupu lelaki itu. Dan keadaan memaksanya terlibat ke dalamnya. Ia lelaki satu-satunya yang belum berkeluarga. Bagi mamaknya, hanya dia yang dapat menyelamatkan kebahagiaan dan harapan kemenakan perempuannya yang hampir padam itu.

Tak ada pilihan. Satu hati mesti dikorbankan. Puan tak hendak menunjukkan keakuannya. Ia bisa saja meminta lelaki itu agar tak meninggalkannya. Lelaki itu bahkan sempat ingin kembali kepadanya beberapa bulan sebelum tanggal pernikahannya. Andai saja waktu itu Puan bersedia menerimanya kembali, apa yang akan terjadi? Bahagiakah atau malah sepanjang hidupnya, Puan akan menderita perasaan bersalah karena telah membiarkan nasib perempuan lain menjadi lebih buruk karena dua kali gagal menikah. Dan membuat lelaki itu terbuang dari keluarga. Dibenci ninik-mamak. Dan dibuang sepanjang adat. Tapi apa pula salah lelaki itu jika ia menolak dinikahkan dengan anak mamaknya sendiri?

Angin serasa makin dingin. Barangkali sudah waktunya embun turun. Sepertiga malam yang terasa begitu sunyi. Tak ada sesuara, hanya sesekali terdengar derit dipan kayu saat suaminya menggeliat. Lelaki yang kini jadi suaminya itu nampak menggapai-gapaikan tangannya. Mungkin ingin merangkulnya. Lelaki yang baru saja menjadi suaminya beberapa bulan lalu itu mendesah dalam dengkurnya. Puan menatap wajah suaminya itu. Ada perasaan aneh yang bersarang di dadanya. Ingin sekali ia tidur di lengan suaminya. Memeluknya dalam dingin malam. Tapi, ia tak bisa. Ia tak bisa mendekap tubuh suaminya, sementara di pikirannya tengah berlalu-lalang bayangan lelaki lain. Lelaki yang datang dari masa lalu.

Sitanang, Juni 2017

*Cerpen ini dimuat di Koran Singgalang edisi Minggu (18/6/2017)

Iklan
Kategori:Cerpen, Sastra Budaya
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: